Uji Coba Konverensi Video Pegiat Buruh Migran


Ruang Bima Hotel Bidakara

Ruang Bima Hotel Bidakara

Rabu pagi (08/12/2010) kami bertiga (Saya, Kang Inyong, dan Kang Lamuk) jalan kaki dari Kantor Yayasan Air Putih Jakarta ke Jalan Raya mencari taxi untuk mengantar kami ke salah satu hotel berbintang empat di daerah menteng, Jakarta Pusat yaitu Hotel Bidakara. Kami pergi ke Hotel tersebut untuk survey tempat dan uji coba konferensi video tentang buruh migran antara Jakarta(Yayasan Tifa), Cilacap (PTK Mahnettik Cilacap), Malang (PTK Mahnettik Malang), dan Sukabumi (PTK Mahnettik Sukabumi). Beberapa PTK tersebut merupakan wadah untuk pegiat pemberdayaan buruh migran yang terjaring dengan Yayasan Tifa.

Konferensi video tersebut bermaksud menghubungkan pembicara, dalam hal ini adalah pimpinan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) dengan pegiat-pegiat pemberdayaan buruh migran untuk mendiskusikan perlindungan dan pemberdayaan buruh migran Indonesia. Konverensi video menggunakan aplikasi sumber terbuka Openmeetings yang dipasang pada server yang beralamat http://203.34.119.117:5080/openmeetings.

Sesampainya di Hotel, tepatnya di depan Ruang Bima, Gedung Birawa, kami disambut dua wanita dari Yayasan Tifa yaitu mba’ Ari dan mba’ Jamilah. Setelah bertutur sapa 2 menit, Kang Lamuk langsung menghubungi beberapa PTK untuk persiapan uji coba konferensi video.  Semua terhubung konferensi video kecuali dari PTK Mahnettik Sukabumi. Koneksi internet sempat bermasalah karena koneksi kami di Hotel menggunakan modem GSM yang kebetulan sedang hemat sinyal alias sulit untuk mendapat sinyal di gedung lantai dua tersebut. Tetapi, pada dasarnya konferensi berjalan lancar, hanya saja jeda waktu penerimaan suara lambat.

Setelah uji coba dianggap cukup, kami turun ke lantai satu untuk makan siang beserta Kang Ibad (Direktur Infest Yogyakarta) yang bergabung dengan kami di tengah-tengah uji coba konferensi video. Langsung saja kami mengambil piring dan memilih menu makanan yang sudah terhidang di meja prasmanan. Setelah saya lihat di sekeliling ruang makanan tersebut tidak ada kursi dan meja makan, saya sempat bingung (mau makan dimana ini, kok gak ada tempat duduk). Ternyata setelah saya lihat, orang lain menikmati makanan sambil berdiri. Saya jadi teringat nasihat orang tua sewaktu kecil, tidak boleh makan makanan sambil berdiri dan tidak dianjurkan oleh Nabi. Tapi ape mau dikate (mau bagaimana lagi), terpaksa saya makan sambil berdiri meskipun tidak biasa.

Makan siang diakhiri dengan perut yang kenyang. Kami bertiga memutuskan untuk pulang ke kantor Yayasan Air Putih karena sudah tidak ada yang perlu kami kerjakan di Hotel dan yang lainnya tetap di Hotel untuk mengikuti seminar tentang Kebebasan Pers dan Regulasi Pemerintah Daerah.  Sesampainya kami di kantor Yayasan Air Putih, kami istirahat sambil berdiskusi santai di teras kantor dengan pegiat Yayasan ditemani dengan secangkir kopi berbagi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: