Asramaku Semakin Asri dan Rapih


Pelataran Asrama tampak dari samping

Pelataran Asrama tampak dari samping

Siang hari menjelang sore (20/05/2012) sekitar pukul 14.00 saia tiba di Asrama Benteng Pendhem yang merupakan sekretariat Himpunan Mahasiswa Cilacap di Yogyakarta (HIMACITA). Saia cukup gembira setelah menempuh perjalanan dari kantor infest (sekitaran terminal lama jogja) menggunakan layanan transportasi publik transjogja menuju asrama di belakang Monumen Jogja Kembali (Monjali).

Kenapa saia gembira? Karena saat saia tiba di asrama, pelataran asrama tampak lebih padhang dan lebih asri dilihat. Rerumputan yang tumbuh liar dibabadi, di sekeliling lapangan badminton ditanami dengan bebungaan, ikan yang ada di kolam depan menjadi mudah disorot mata karena airnya jernih dan rerungkudan di sekeliling kolam dibersihkan sehingga si kolam ikan makin menonjolkan dirinya dari yang lain. Selain itu ketika saia masuk ke ruangan asrama, desain interior sudah ditata lebih rapih. Di dekat pintu masuk terdapat satu set alat kesenian angklung yang di hadapannya tempat air minum dan papan kegiatan organisasi. Agak masuk ke dalam tertata ruang tamu yang terjejer meja kursi disandingkan dengan lemari yang berisi berkas-berkas HIMACITA yang disampingnya meja yang diatasnya ada satu piala tropi juara tiga turnamen sepak takraw tingkat nasional 2012.

Kamar-kamar asrama sekarang tidak semua berisi kasur. Ruang yang difungsikan khusus untuk tidur dibatasi hanya 2 kamar dan yang lain untuk ruang pustaka, ruang komputer dan ruang divisi-divisi HIMACITA.
Ketika saia lihat di pelataran asrama, terlihat satu sosok pemuda yang memegang cangkul sambil membersihkan dan merapihkan gundukan tanah yang berumput dan berbatu. Beliau adalah Maftuhin yang akrab dipanggil tu`ing, mahasiswa jurusan hukum di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Panas terik matahari tak mematahkan semangatnya untuk membuat taman di pelataran asrama.

Beberapa menit kemudian, para pemuda yang lain keluar dari ruang komputer dan langsung membantu mengumpulkan sampah dan gunungan rumput kemudian membakarnya, kami sebut dalam bahasa cilacap Bedhiangan. Dengan semangat kebersamaan, saia pun ikut membantu mencabut rumput di pelataran asrama. Rumput yang seolah tak mau dicabut akhirnya dipaksa angkat kaki dari habitatnya dengan sabetan sabit, sadis bukan. Tapi, begitulah memperlakukan rumput yang bandel. Kian lama api kian menjadi dan asap tebal membumbung kesana-kemari, mungkin tetangga sekitar asrama agak terganggu dengan foging yang dilakukan penduduk asrama.

Sosok Tu'ink

Sosok Tu’ink

Menurut keterangan Ayi Purdianto, pengelola asrama, dalam tiga hari terakhir Tu`ing kerap membersihkan pelataran asrama. “Wis telung ndina kiye tu`ing babad suket karo ngrapihna latar asrama, mulai mruput esuk sampe peteng”, ujar Ayi.

Setelah pukul 17.30 kami istirahat minum kopi bersama di beranda asrama sembari mengeringkan keringat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: