Lulus SMA Berkalung Selendang


Delapan tahun lalu, aku masih menjadi siswa SMA yang berada pada ujung pintu keluar.  Saat yang mendebarkan bagi setiap siswa yang sudah menempuh Ujian Akhir Nasional (UAN) dan menunggu pengumuman kelulusan. Deg-degan rasanya tak karuan sambil berdoa semoga aku lulus.

Aku berangkat ke sekolah diantar ayahku tercinta untuk mengambil surat pengumuman kelulusan. Jika dibayangkan, aku bagaikan seorang ibu yang menggendong anaknya dan diantar suaminya menuju puskesmas untuk imunisasi. Yang kugendong bukan bayi, tapi tangan kiriku yang patah akibat bermain sepakbola.

Saat itu, tulang hastaku (antara sikut dan pergelangan) belum merekat kembali dengan sempurna sehingga ayahku tak berani mengendarai motor yang memboncengku cepat-cepat. Aku tahu ayahku sayang padaku sehingga beliau sangat hati-hati memboncengku, memilih bagian jalan yang halus dari bentuk jalan seperti lahan off road berbatu.

Tangan kiriku terbungkus ramuan (kencur, gamping) didaplok dengan kelopak daun pinang, dan dililit dengan perban elastis pembalut tulang. Kugendong tanganku dengan selendang warna biru yang terikat di pundakku.

Sesampai di sekolah, kerumunan ramai penuh pengharapan memadati lobi. Belum dimulai pengumuman, beberapa kawanku di luar gedung sekolah sudah corat-coret baju dengan cat semprot (pilok).

Saat pengumuman dimulai dan ayahku memasuki ruang kelas dipandu wali kelasku (3 IPA 2), pak Adang, dadaku tambah berdebar sembari merasakan linu di tangan kiriku. Beberapa menit kemudian, aku dipanggil wali kelasku dari dalam pagar diminta menemuinya di kelas. Benakku berkata “jangan-jangan aku nggak lulus nih, yang lain aja lulus dan tidak dipanggil ke dalam kelas, karena hanya orang tuannya yang boleh masuk ke ruang pengumuman”. Ketika aku masuk ke ruang kelas, wali kelasku mengkonfirmasikan biaya pembayaran sekolah yang belum terpenuhi di hadapan orangtuaku.

Selanjutnya ayahku diberi surat yang terbungkus amplop putih, dan aku membukanya di luar pintu kelas. Surat itu menerangkan bahwa siswa atas nama MUHAMMAD KHAYAT lulus. Aku menjerit dalam hati dan aku langsung sujud syukur di tempat duduk teras kelas.

Ayahku masih berada dalam kelas, aku keluar pagar menghampiri kawan-kawan satu geng, dan seluruh kawanku mengucapkan selamat. Indahnya kebersamaan sewaktu merayakan kebahagiaan.

Sayangnya di saat waktunya mengekspresikan kebahagiaan bersama kawan-kawan, aku teringat tangan kiriku tak menyetujui semua ekspresi kebahagiaan. Semua kawan-kawanku corat-coret pakaian dan tubuh mereka sambil mengarak sepeda motor keliling kota Majenang dikawal pihak keamanan polisi lalu lintas.

Aku tidak bisa bergabung dalam pesta ekspresi kelulusan bersama kawan-kawan. Aku harus menjaga perasaan tangan kiriku yang mencegah aku melakukan gerakan tubuh berlebih.

Ya sudahlah, aku sudah merasa bahagia ketika aku tau bahwa aku lulus. Kemudian ayahku menghampiriku mengajakku pulang ke rumah untuk merayakan kelulusan bersama ibu dan adik-adikku. Aku sadar, aku tidak sendiri. Merayakan kelulusan bersama keluarga lebih asyik karena bercampur dengan harapan cita-cita yang selanjutnya akan diraih. Bercengkrama, bercanda, dan diskusi dengan keluarga tentang masa depan, inilah hal yang membuatku selalu  rindu dengan ayah, ibu, dan adik-adikku.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: